Blogs Archive

Read and Comment

  • Dari Sarjana Pendidikan Jadi CEO Agensi: Catatan Perjalanan di WPCC ITTS

    Dari Sarjana Pendidikan Jadi CEO Agensi: Catatan Perjalanan di WPCC ITTS

    Halo teman-teman pembaca ghasali.id! Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada pertengahan Juni ini, saya mendapatkan kesempatan yang sangat berharga untuk hadir dan berbagi cerita di Institut Teknologi Tangerang Selatan.

    Setelah sebelumnya sempat melakukan survei lokasi dan berkoordinasi intens dengan pihak kampus khususnya dengan Pak Taufik dan Pak Chendri akhirnya acara WPCC ITTS (WordPress Campus Connect) sukses terselenggara dengan sangat baik.

    Acara WPCC ITTS ini terasa semakin istimewa dan penuh energi karena dibuka langsung oleh tokoh IT legendaris kebanggaan Indonesia, Bapak Onno W. Purbo. Meskipun beliau tidak tampil sebagai pengisi materi inti, kehadiran dan sambutan pembukanya di awal acara sukses membakar semangat seluruh peserta yang memenuhi ruangan.

    Bagi saya pribadi, bisa ikut membagikan panggung dan berkolaborasi bersama sosok-sosok luar biasa seperti rekan saya Mas Satrio Subroto dan Mas Rendy, CEO dari Qwords, tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Namun, di balik antusiasme dan kemegahan acara hari itu, momen ini sebenarnya menjadi ajang refleksi yang sangat mendalam bagi saya.

    Sebuah Pengakuan: CEO Agensi Lulusan S1 PGSD

    Sebuah Pengakuan_ CEO Agensi Lulusan S1 PGSD

    Di tengah antusiasme audiens WPCC ITTS, saya memulai sesi presentasi saya dengan sebuah pengakuan yang cukup membuat banyak mahasiswa terdiam sejenak. Di hadapan para calon ahli teknologi masa depan tersebut, saya membuka sebuah fakta sederhana: saya bukanlah seseorang yang lahir dari latar belakang pendidikan IT.

    Banyak yang terkejut ketika tahu bahwa saya, Ghasali Muhammad Elba, sebenarnya adalah seorang lulusan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Perjalanan kuliah saya pun tidak bisa dibilang mulus dan singkat; butuh waktu hingga 7 tahun sampai akhirnya saya berhasil mengenakan toga.

    Realita yang harus saya hadapi setelah wisuda ternyata jauh lebih keras dari yang dibayangkan. Berbekal ijazah sarjana pendidikan, saya justru sangat kesulitan saat mencoba melamar pekerjaan ke berbagai sekolah formal.

    Namun, di atas panggung itu saya ingin menegaskan satu hal kepada teman-teman mahasiswa: jalan buntu dalam mencari pekerjaan bukanlah akhir dari segalanya. Justru, kondisi itulah yang “memaksa” saya untuk memutar otak dan memulai transformasi besar yang akhirnya membawa saya terjun ke dunia digital.

    Frustrasi Ngoding demi Yayasan RIS

    Frustrasi Ngoding demi Yayasan RIS

    Di tengah masa-masa sulit mencari pekerjaan mengajar tersebut, saya memfokuskan sisa energi dan waktu untuk mengurus sebuah organisasi non-profit yang sedang saya kembangkan, yaitu Yayasan Respek Indonesia Siaga (RIS).

    Saat itu, kami sangat membutuhkan sebuah platform media publikasi digital agar kegiatan yayasan bisa diakses oleh publik luas (yang kini bisa kalian kunjungi di ris.or.id).

    Niat awal saya waktu itu cukup nekat dan ambisius. Bermodalkan video tutorial dari YouTube, saya mencoba belajar membuat website murni dari nol. Saya memaksakan diri mempelajari elemen dasar seperti HTML dan CSS untuk tampilan, hingga mencoba menelan mentah-mentah bahasa pemrograman PHP agar website yayasan bisa berjalan secara dinamis.

    Hasilnya? Terasa sangat menyiksa. Bagi saya yang terbiasa dengan buku panduan mengajar anak SD dan sama sekali tidak memiliki latar belakang logika algoritma IT, mencerna deretan kode pemrograman tersebut terasa seperti berlari menabrak tembok tebal. Saya sering kali merasa kehabisan akal hanya untuk membereskan satu error kecil yang membuat website tidak mau berjalan.

    Titik Balik di WordCamp Tegal

    Titik Balik di WordCamp Tegal

    Jalan keluar dari kebuntuan dan frustrasi itu datang dari arah yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Semuanya bermula ketika saya memutuskan untuk hadir di sebuah event komunitas bernama WordCamp Tegal, yang pada saat itu mengangkat tema WordPress for Enterprise.

    Di sanalah mata saya benar-benar terbuka. Untuk pertama kalinya, saya menyadari keberadaan Content Management System (CMS) bernama WordPress. Saya diperkenalkan pada sebuah alat bertenaga raksasa yang memungkinkan siapa saja membangun berbagai macam website yang kompleks, tanpa harus merakit kode dari baris pertama.

    Sepulang dari acara tersebut, saya langsung mengimplementasikan CMS WordPress untuk membangun website Yayasan RIS. Keputusan ini terbukti menjadi game changer.

    Antarmuka WordPress yang sangat intuitif tidak hanya menyelamatkan saya dari pusingnya ngoding, tetapi juga sangat memberdayakan rekan-rekan pengurus organisasi lainnya. Tanpa perlu mengerti bahasa pemrograman sama sekali, para pengurus yayasan kini bisa dengan mudah melakukan manajemen konten, mengunggah artikel kegiatan, hingga mengelola data langsung dari dashboard yang sangat bersahabat.

    Gelar Tidak Terpakai, Tapi Kehidupan Berubah Total

    Gelar Tidak Terpakai, Tapi Kehidupan Berubah Total

    Mungkin banyak yang bertanya, apakah saya menyesal karena gelar sarjana pendidikan yang saya raih dengan susah payah selama 7 tahun seolah tidak terpakai di jalur formal? Jawaban saya: sama sekali tidak.

    Ketekunan untuk terus belajar, mengulik informasi baru, dan beradaptasi dengan teknologi justru membuahkan jalan keluar yang mengubah total arah hidup saya.

    Berawal dari keberhasilan membangun website yayasan, saya mulai melihat peluang bisnis yang sangat besar dari ekosistem WordPress. Dari titik itulah, saya memberanikan diri untuk mendirikan Sali Digital Agency (sali.co.id), sebuah agensi digital yang fokus pada pembuatan website dan pemasaran produk untuk berbagai klien.

    Hal yang paling membuat saya bangga dengan kemandirian ini adalah transformasinya. Dari seorang lulusan PGSD yang dulu sangat kesulitan melamar pekerjaan, kini agensi kecil yang saya rintis sudah bisa berdiri tegak dan memiliki tiga orang karyawan yang hebat.

    Perjalanan ini menjadi bukti nyata bagi diri saya sendiri dan semoga bagi siapa saja yang mendengarnya bahwa siapapun bisa survive dan sukses, asalkan memiliki niat baja dan kemauan untuk terus mengasah kemampuan.

    Pesan Emas untuk Mahasiswa ITTS: Peluang Tanpa Batas

    Pesan Emas untuk Mahasiswa ITTS_ Peluang Tanpa Batas

    Berdiri di hadapan rekan-rekan mahasiswa pada acara WPCC ITTS kemarin, semangat kemandirian inilah yang paling ingin saya tularkan. Jika saya yang murni berasal dari latar belakang sarjana pendidikan saja bisa memanfaatkan teknologi ini untuk membangun bisnis, apalagi kalian yang memang setiap hari belajar di lingkungan kampus IT!

    Saya sangat menekankan bahwa kalian bisa menggunakan WordPress sebagai senjata untuk berbagai kebutuhan, seperti:

    • Membangun website portofolio profesional untuk memukau calon klien atau perusahaan.
    • Membuat Company Profile bagi kalian yang ingin merintis startup sendiri.
    • Membangun Learning Management System (LMS) atau portal e-learning.

    Lebih dari sekadar alat pembuat website, WordPress bisa dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan atau cuan yang sangat menjanjikan, persis seperti yang saya jalani saat ini. Kalian tidak perlu khawatir akan kesulitan, karena learning curve (tingkat kesulitan belajar) dari platform ini sangat rendah dan bersahabat bagi pemula.

    Sumber ilmunya pun bertebaran gratis di mana-mana. Kalian bisa dengan mudah mencari tutorial panduan di YouTube, atau belajar secara terstruktur langsung dari portal resmi komunitas global di learn.wordpress.org. Peluangnya sudah ada di depan mata, tinggal seberapa besar kemauan kita untuk mengambilnya.

    Semangat Komunitas dan Open Source: Mengambil dan Memberi Kembali

    Hal terakhir yang selalu saya banggakan dari WordPress, dan saya tekankan betul di panggung WPCC ITTS kemarin, adalah kultur Open Source yang mengakar kuat di ekosistemnya. Di sini, kita tidak hanya disuguhkan software berstandar global secara gratis, tetapi kita juga diberikan ruang yang sangat inklusif untuk ikut berkontribusi membesarkan platform ini.

    Kontribusi di dunia Open Source tidak melulu soal menulis kode-kode pemrograman yang rumit. Saya sudah membuktikannya sendiri. Sebagai seorang sarjana pendidikan, saya memilih jalur kontribusi di bidang penggerak dengan aktif menjadi organizer Komunitas WordPress di Tangerang Selatan (Tangsel).

    Bagi teman-teman mahasiswa ITTS atau siapa pun kalian yang memang suka ngoding dan memiliki ketertarikan kuat di bidang rekayasa perangkat lunak pintu selalu terbuka sangat lebar.

    Kalian bisa ikut berkontribusi langsung ke jajaran Core Team WordPress, membantu mengembangkan dan merapikan berbagai macam fitur di CMS ini yang nantinya akan dipakai oleh jutaan website di seluruh dunia.

    Masa Depan Milik Mereka yang Mau Belajar

    Masa depan digital tidak pernah menanyakan dari mana asal latar belakang ijazahmu. Ia hanya bertanya seberapa jauh kamu mau belajar, beradaptasi, dan berani mengeksekusi ide-ide yang ada di kepalamu.

    Sekali lagi, terima kasih banyak kepada jajaran sivitas akademika ITTS, Bapak Onno W. Purbo yang telah membuka acara dengan luar biasa, rekan pembicara hebat Mas Satrio Subroto dan Mas Rendy (CEO Qwords), serta seluruh audiens yang telah menyukseskan WPCC ITTS. Saya sangat senang dan bangga bisa berbagi panggung serta membagikan cerita hidup saya di sana.

    Semoga catatan perjalanan singkat ini bisa memantik semangat kemandirian teman-teman semua untuk terus berkarya. Teruslah mengulik, jangan pernah takut mencoba hal baru, dan sampai jumpa di event komunitas WordPress selanjutnya!

  • Kenapa WordPress 7.0 Armstrong Akan Mengubah Cara Kita Membangun Website

    Kenapa WordPress 7.0 Armstrong Akan Mengubah Cara Kita Membangun Website

    Baru-baru ini, saya menyempatkan diri untuk hadir di WPJKT Meetup 52 yang diselenggarakan di MarkPlus Institute, Gedung Menara EightyEight Kota Kasablanka.

    Berkumpul dan berdiskusi langsung dengan rekan-rekan penggiat ekosistem WordPress selalu memberikan perspektif yang menyegarkan.

    Namun, pertemuan kali ini terasa sedikit berbeda karena topik yang dibahas sangat penting dan bersinggungan langsung dengan disrupsi teknologi yang tengah merombak industri kita saat ini.

    Tema yang dibawakan oleh Erik Hidayatullah, founder jadiMVP.id, sore itu sukses memicu banyak pemikiran tajam: “WordPress di Era Agent”.

    Bagi kita yang kesehariannya merancang solusi arsitektur digital, mengeksekusi strategi SEO, hingga mengelola infrastruktur web untuk klien bisnis, narasi ini bukanlah sekadar buzzword musiman.

    Pemaparan tersebut adalah sinyal kuat mengenai pergeseran fundamental tentang bagaimana kita akan bekerja dan berinteraksi dengan teknologi web ke depannya.

    Selama bertahun-tahun, WordPress telah memantapkan posisinya sebagai Content Management System (CMS) paling dominan dan diandalkan di dunia. Namun, kemunculan versi terbaru WordPress 7.0 Armstrong menjadi titik balik yang sangat masif.

    Kita sedang menyaksikan transisi identitas di mana WordPress tidak lagi sekadar menjadi tempat untuk mengelola konten, melainkan berevolusi menjadi sebuah Operating System (OS) yang sepenuhnya digerakkan oleh kecerdasan buatan.

    Transformasi dari alat publikasi statis menjadi sebuah lingkungan dinamis di mana AI agent bisa memahami konteks dan mengeksekusi perintah kompleks secara otomatis benar-benar menandai akhir dari era tradisional web development.

    Mengenal WordPress 7.0 Armstrong dan Konektor AI Generatif

    Mengenal WordPress 7.0 Armstrong dan Konektor AI Generatif

    Bagi kita yang sering bergelut dengan development dan optimasi website, ketergantungan pada plugin pihak ketiga untuk mengintegrasikan fitur-fitur baru sering kali menjadi pisau bermata dua menambah beban server sekaligus memunculkan risiko keamanan.

    Namun, rilis WordPress 7.0 yang diberi codename “Armstrong” mengubah peta permainan ini secara radikal dengan menghadirkan infrastruktur kecerdasan buatan secara native langsung di dalam core WordPress.

    Pembaruan paling mencolok adalah hadirnya Multi-LLM Connector. Di dasbor versi terbaru ini, kita tidak lagi perlu memasang plugin eksternal yang berat hanya untuk menghubungkan situs dengan kapabilitas AI.

    WordPress Armstrong telah dibekali dengan konektor bawaan yang memungkinkan integrasi instan dengan model-model AI favorit kita seperti Google (Gemini), Anthropic (Claude), dan OpenAI.

    Dari kacamata efisiensi alur kerja (workflow), ini adalah sebuah lompatan yang signifikan. Proses generate teks untuk copywriting halaman, penyusunan draf konten, hingga pembuatan image dan aset visual kini bisa dieksekusi langsung dari dalam editor WordPress.

    Fleksibilitas ini memangkas banyak langkah repetitif, memungkinkan kita untuk lebih fokus pada strategi arsitektur konten dibandingkan terjebak pada hal-hal teknis perpindahan tab dan copy-paste antar platform.

    Model Context Protocol (MCP) Lompatan Besar Pembuatan Plugin & Desain

    Model Context Protocol (MCP) Lompatan Besar Pembuatan Plugin & Desain

    Jika integrasi native AI di atas adalah fondasinya, maka inovasi yang benar-benar membuat WordPress 7.0 terasa seperti teknologi dari masa depan adalah implementasi Model Context Protocol (MCP).

    Secara sederhana, MCP adalah standar terbuka yang menjembatani asisten AI dengan sistem eksternal. Dalam konteks WordPress, MCP bertindak sebagai jalur komunikasi terstandarisasi yang memungkinkan AI untuk tidak hanya membaca konteks website, tetapi juga bertindak dan mengeksekusi perintah di dalam ekosistem situs tersebut.

    Pada demonstrasi langsung di WPJKT Meetup 52 kemarin, kemampuan MCP ini benar-benar dibuktikan secara memukau. Di hadapan para peserta, diperlihatkan bagaimana kita dapat memerintahkan AI untuk mendesain tata letak (layout) halaman secara real-time.

    Lebih jauh lagi, alih-alih mengandalkan proses penulisan kode manual yang memakan waktu berhari-hari, AI kini bisa diinstruksikan untuk menulis logika (code) sekaligus membuat sebuah plugin fungsional langsung terpasang ke dalam WordPress kita hanya dengan menghubungkannya melalui MCP.

    Ini adalah bentuk otomatisasi level lanjut. Kehadiran MCP menghapus batasan tradisional dalam web development. Pekerjaan-pekerjaan spesifik yang sebelumnya membutuhkan eksplorasi kode PHP atau modifikasi tema yang rumit, kini bisa diterjemahkan dari prompt bahasa natural langsung menjadi fitur yang bekerja.

    Bagi agensi dan praktisi digital, ini berarti siklus pengembangan (development cycle) yang jauh lebih singkat dan kemampuan adaptasi yang nyaris instan untuk merespons kebutuhan klien atau pasar.

    Mengapa Ini Mengubah Cara Kita Membangun Website Selamanya

    Mengapa Ini Mengubah Cara Kita Membangun Website Selamanya

    Evolusi yang dibawa oleh WordPress 7.0 ini bukan sekadar tentang penambahan fitur baru, melainkan sebuah pergeseran paradigma tentang bagaimana kita berinteraksi dengan teknologi web.

    1. Dari Komposisi Kode ke Arsitektur Prompt

    Peran seorang web developer dan desainer kini mulai bergeser. Alih-alih menghabiskan porsi waktu terbesar untuk menulis dan melakukan debugging pada baris-baris kode secara manual, fokus utama kini beralih pada keahlian merancang arsitektur prompt (prompt engineering).

    Kemampuan mendefinisikan instruksi, konteks bisnis, dan batasan logika kepada AI agent menjadi keterampilan penting yang baru.

    2. Demokratisasi Pembuatan Fitur Kompleks

    Di masa lalu, pembuatan fitur kustom di dalam WordPress sering kali terhambat oleh barrier to entry teknis yang tinggi. Kini, dengan bantuan integrasi AI dan MCP, pembuatan fitur yang kompleks menjadi jauh lebih terdemokratisasi.

    Eksplorasi solusi digital untuk kebutuhan spesifik tidak lagi eksklusif bagi mereka yang menguasai bahasa pemrograman tingkat lanjut, melainkan terbuka bagi siapa saja yang mampu merumuskan problem-solving secara logis.

    3. Dampak Finansial dan Skalabilitas Bisnis

    Dari sudut pandang bisnis agensi digital, efisiensi ini membuka peluang skalabilitas yang luar biasa. Mengelola kampanye digital marketing dan merancang arsitektur web untuk sektor usaha kecil hingga menengah khususnya dalam mengakomodasi permintaan klien lokal sering kali berkejaran dengan efisiensi waktu dan anggaran.

    Dengan siklus development yang dipangkas drastis dari hitungan minggu menjadi hitungan hari atau bahkan jam, alokasi sumber daya dapat dialihkan pada hal yang lebih esensial: merumuskan strategi, memperkuat optimasi SEO lokal, dan mengakselerasi pertumbuhan bisnis klien itu sendiri.

    Kesimpulan & Langkah Menghadapi Era Baru

    WPJKT Meetup 52 kemarin telah memberikan semacam sneak peek ke masa depan. Narasi bahwa WordPress kini beroperasi sebagai Operating System di Era Agent melalui rilis versi 7.0 Armstrong adalah sebuah realitas baru yang harus segera kita adaptasi.

    WordPress bukan lagi sekadar kanvas kosong tempat kita menempelkan teks dan gambar. Ia telah menjelma menjadi asisten cerdas dan ekosistem dinamis yang siap mengeksekusi visi teknis kita.

    Integrasi konektor native AI dan kehadiran Model Context Protocol (MCP) adalah fondasi dari revolusi cara kita membangun website.

    Bagi para praktisi, developer, dan pemilik bisnis, masa transisi ini adalah momen emas. Mengabaikan disrupsi ini sama saja dengan membiarkan diri tertinggal oleh zaman.

    Inilah saatnya untuk mulai mengeksplorasi ekosistem AI di dalam WordPress, bereksperimen dengan integrasi MCP, dan mendefinisikan ulang batas-batas dari apa yang bisa kita bangun di atas platform ini. Masa depan web development sudah hadir, dan ia digerakkan oleh kecerdasan buatan.

Lets Work Together

I help businesses grow and nonprofits expand their impact
through strategic, professional websites.